Sabtu, 08 Oktober 2011

PERANAN PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

PERANAN PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA
Berdasar data statistik penduduk jumlah perempuan di Indonesia sebanyak 50,3% dari total penduduk. Hal ini berarti di Indonesia jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Dengan jumlah perempuan yang demikian besar maka potensi perempuan perlu lebih diberdayakan sebagai subyek maupun obyek pembangunan bangsa. Peranan strategis perempuan dalam menyukseskan pembangunan bangsa dapat dilakukan melalui:
1. Peranan perempuan dalam keluarga
Perempuan merupakan benteng utama dalam keluarga. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dimulai dari peran perempuan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya sebagai generasi penerus bangsa.
2. Peranan perempuan dalam Pendidikan
Jumlah perempuan yang demikian besar merupakan aset dan problematika di bidang ketenaga kerjaan. Dengan mengelola potensi perempuan melalai bidang pendidikan dan pelatihan maka tenaga kerja perempuan akan semakin menempati posisi yang lebih terhormat untuk mampu mengangkat derajat bangsa.
3. Peranan perempuan dalam bidang ekonomi
Pertumbuhan ekonomi akan memacu pertumbuhan industri dan peningkatan pemenuhan kebutuhan dan kualitas hidup. Di sektor ini perempuan dapat membantu peningkatan ekonomi keluarga melalaui berbagai jalur baik kewirausahaan maupun sebagai tenaga kerja yang terdidik.
4. Peranan perempuan dalam pelestarian lingkungan
Kerusakan lingkungan yang semakin parah karena proses industrialisasi maupun pembalakan liar perlu proses reboisasi dan perawatan lingkunga secara intensif. Dalam hal ini perempuan memiliki potensi yang besar untuk berperan serta dalam penataan dan pelestarian lingkungan
Peluang Wanita Berperan dalam Pendidikan Generasi
Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya selama + 9
bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun serta mengasuhnya
sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu mengurus diri sendiri dan
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah aktivitas minimal
yang harus dilakukan seorang ibu terhadap anaknya (secara langsung). Dalam
keadaan ini berarti seorang ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan
dalam proses perkembangan seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa
awal kehidupan anak ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya.
Dengan demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan
anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi dasar
(basic) pada proses pendidikan selanjutnya.


Seorang anak bagaikan selembar kertas putih bersih tanpa ada coretan (tulisan)
maupun warna. Orang tuanya lah yang berperan menentukan coretan-coretan dan
warna apa yang akan diberikan pertama kali. Dan ini merupakan warna dasar yang
akan menentukan warna apa yang akan diterima/dipilih pada proses pewarnaan
selanjutnya. Kalau pewarnaan dasar telah menghasilkan warna yang khas, maka
warna dasar inilah yang akan menyeleksi warna apa yang akan diterimanya dan
diserap kemudian. Sebaliknya jika warna dasar tidak khas dan tidak jelas, maka
tidak akan ada proses seleksi untuk menerima warna berikutnya. Bisa jadi warna
apapun akan diterima sehingga menjadi warna yang berantakan (tidak khas) dan
hasilnya juga akan kacau. Demikianlah permisalan gambaran tentang proses
pendidikan pada seorang anak dalam rangka membentuk kepribadiannya. Sebab anak
memang dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Sebagaimana sabda Rasulullah saw
:

"Tidak ada seorang anakpun yang baru lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan
suci. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani
atau Musyrik"(HR Muslim).


Seorang ibu memiliki kesempatan dan potensi yang lebih besar untuk berperan
secara langsung dalam proses pemberian warna dasar pada anak , yakni peletak
dasar/landasan pembentukan kepribadiannya. Sebab ibulah yang paling dekat
dengan anak sejak awal pertumbuhannya, sesuai dengan tugas pokoknya. Sedangkan
ayah kemungkinan besar lebih banyak di luar rumah karena menjalankan tugasnya
mencari nafkah keluarga. Sekalipun demikian, ayah tetap dituntut peran dan
tanggung jawabnya dalam proses pembentukan kepribadian anak. Sebab tugas
mendidik anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya, bukan hanya ibu.

Seorang ibu bisa memulai proses pendidikan pada anaknya sejak janin (masih
dalam kandungan). Minimal yang harus dilakukan seorang ibu terhadap janin dalam
kandungannya adalah memilihkan makanan yang halal dan baik untuk membesarkan
janin. Senantiasa berdzikir dan berdo'a kepada Allah SWT, ketika merasakan
setiap gejala yang diakibatkan keberadaan janin dalam kandungan. Tidak mengeluh
terhadap rasa sakit yang dialaminya di saat hamil, tetapi sepenuhnya berserah
diri kepada Allah dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah agar tetap bisa
menunaikan segala kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Berupaya menenangkan perasaan/emosionalnya dengan membaca ayat-ayat Al Qur'an,
sehingga suasana hatinya tetap tenang dan ikhlas menjalani masa kehamilannya.
Sebab kondisi psikologis seorang ibu - menurut pendapat para ahli akan
berpengaruh pada perkembangan janin yang dikandungnya.


Demikian pula setelah anak lahir, ibu berperan besar untuk menciptakan kondisi
lingkungan tempat anak dibesarkan. Suara apa yang pertama didengarnya ketika
pertama kali ia bisa mendengar. Pemandangan seperti apa yang dilihatnya ketika
ia pertama kali melihat. Kata-kata apa yang diucapkannya ketika ia pertama kali
berbicara. Dan lingkungan pertama yang masuk ke dalam 'rekaman kaset kosong'
seorang anak adalah rumahnya. Apa-apa yang ada di dalam rumahnya itulah yang
pertama direkamnya, terutama yang paling dekat kepadanya adalah ibu. Oleh
karena itu ibulah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Anehnya, saat ini banyak orang tua yang harus mengikuti kehendak anaknya. Bukan
anak yang mengikuti kehendak orang tuanya. Ini sudah merupakan suatu problema
yang sering muncul di kalangan orang tua saat ini. Bahkan problema ini sudah
tersebar luas di mana-mana. Anak mempunyai keinginan - yang lebih besar
dipengaruhi lingkungannya - yang berbeda dengan keinginan orang tuanya. Bahkan
di aberani menentang orang tuanya demi mewujudkan keinginannya. Hal iniberarti
orang tua telah gagal mengisi kaset kosongnya dan memberi warna dasar pada
kertas putihnya, yang mampu menjadi landasan perkembangan kepribadian anak
serta tolok ukur untuk menyaring informasi dan perilaku serta memilih
warna-warna yang ada di luar rumahnya, mana yang akan diambil dan mana yang
ditolak.

 Peranan Perempuan Di Bidang Kesehatan 
Hasil penelitian menunjukkan, jika seorang bayi berumur kurang dari 3 bulan ditinggal mati ibunya, maka kemungkinan kelangsungan hidup sang bayi hanya sekitar 30 %. Artinya jika seorang ibu meninggal saat bayinya berusia kurang dari 3 bulan maka resiko kematiannya sebesar 70 %. Peran ibu sangat besar artinya, karena dari rahim ibu lahir putra-putri bangsa.

Sebuah istilah menyebutkan bahwa "membangun ibu adalah membangun bangsa, tetapi membangun bapak adalah membangun dirinya sendiri". Apa benar? Karena itu, kesehatan dan keselamatan ibu harus menjadi prioritas utama. Setelah itu, ibu yang bertanggung jawab dalam merawat dan menjaga bayinya agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan kuat.

Kenyataannya, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, lebih dari 300 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini memang terus mengalami penurunan dengan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil, tetapi masih jauh dari angka yang diharapkan. AKI yang diharapkan pada tahun 2010 adalah sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup.

Penyebab kematian ibu melahirkan itu pada dasarnya adalah kurang perawatan dalam masa kehamilan, kurang pedulinya ibu hamil akan kondisi kehamilannya, yang berarti kurangnya perhatian kaum perempuan untuk keselamatan dirinya sendiri dan bayi yang akan dilahirkannya, sehingga angka kejadian perdarahan selama kehamilan dan persalinan cukup tinggi (sekitar 28 %).

Ada beberapa sebab yang tidak langsung tentang masalah kesehatan ibu, yakni pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah. Masih banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi.

Ibu hamil memiliki risiko 50% dapat melahirkan dengan selamat dan 50% dapat mengakibatkan kematian.
Ada "4 terlalu" dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak. Juga ada "4 terlambat", yaitu terlambat mengenali tanda-tanda kelainan persalinan, terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan di tempat rujukan.

Yang sangat mengecewakan dari peranan kaum perempuan yang selalu menuntut persamaan hak di negara kita ini adalah sangat rendahnya jumlah ibu yang memberi ASI secara eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan. Hal itu terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah, tatalaksana bagian persalinan rumah sakit yang belum optimal, banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah dan peranan kaum perempuan masih kurang dalam mensosialisasikan penggunaan ASI.

Hingga saat ini, beberapa rumah sakit dan rumah bersalin masih memberi susu formula pada bayi yang baru lahir, bukan inisiasi ASI dini. Padahal pemberian ASI eksklusif kepada bayi akan meningkatkan kekebalan tubuh sang bayi dan memberi perlindungan dari penyakit infeksi yang mematikan. Kebutuhan protein diawal kehidupan akan terpenuhi, diharap dengan penambahan makanan pendamping ASI sesuai pertambahan umur dapat mencegah kekurangan gizi apalagi gizi buruk.

PERAN DAN TUGAS PEREMPUAN DALAM KELUARGA
Wanita (seorang ibu) itu adalah mengurus di dalam rumah suaminya dan mendidik putra-putrinya (Al Hadist Syarif)

Peran dan tugas perempuan  dalam keluarga secara garis besar dibagi menjadi peran wanita sebagai ibu, ibu sebagai istri, dan anggota masyarakat. Dalam kesempatan kali ini pembicaraan lebih ditekankan pada tugas perempuan dalam membina kesehatan mental bagi dirinya, keluarganya maupun masyarakatnya. Agar dapat melakukan peran atau tugasnya dengan baik, maka perlu dihayati benar mengenai sasaran dan tujuan dari peran itu.
            Di samping itu, perempuan harus menguasai cara atau teknik memainkan peran atau melaksanakan tugasnya, disesuaikan dengan setiap situasi yang dihadapinya. Sebagai ibu, pendidik anak-anak perempuan harus mengetahui porsi yang tepat dalam memberikan kebutuhan-kebutuhan anaknya, yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya. Sikap maupun perilakunya harus dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Sebagai seorang istri, wanita harus menumbuhkan suasana yang harmonis, tampil bersih, memikat dan mampu mendorong suami untuk hal-hal yang positif. Sebagai anggota masyarakat, wanita diharapkan peran sertanya dalam masyarakat.
            Keberhasilan melakukan peran di atas, tentunya bukan merupakan hal yang mudah, yang penting adalah kemauan dan usaha untuk selalu belajar.
PERAN WANITA DALAM MASYARAKAT
            Secara kodrati, wanita sebagai manusia tidak dapat melepaskan diri dari keterikatannya dengan manusia lain. Seperti kita ketahui bahwa pada dasarnya berhubungan dengan individu lain merupakan suatu usaha manusi untuk memenyhi kebutuhan sosialnya. Dari hubungan antar pribadi ini, tumbuhlah perasaan diterima, ditolak, dihargai-tidak dihargaidan diakui-tidak diakui. Di samping itu dari hubungan antar pribadi ini, manusia dapat lebih mengenal dirinya sendiri, banyak mendapatkan penilaian dan memberikan penilaian. Bergaul dengan individu lain,
membuka kesempatan bagi wanita untuk dapat menyatakan diri dan mengembangkan kemampuannya.
            Suatu kenyataan bahwa dewasa ini keikut-sertaan wanita dalam mencapai tujuan pembangunan sangat diharapkan. Berbagai peran dan tugas ditawarkan bagi wanita, dalam hal ini tentunya kita harus selalu selektif jangan sampai terkecoh sehingga lupa pada kodratnya.
            Dalam hubungan antar pribadi (pergaulan) masing-masing individu diberi kesempatan untuk mengembangkan pribadinya agar dapat mendekati sempurna. Wanita, dalam bergaul memperoleh banyak kesempatan untuk menghayati proses sosialisasi itu, baik sebagai subjek atau objek dalam kehidupan bersama.
            Sehubungan dengan kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan individu lain, Islam mengajarkan umatnya untuk menjalankan silaturahmi sebagai usaha untuk mempererat persaudaraan dengan sesama umat. Dari silaturahmi inilah awal tumbuhnya Ukhuwah Islamiyah, yang merupakan suatu cara untuk mencapai terwujudnya masyarakat Islam yang bersatu. Keberhasilan kita dalam menciptakan suasana yang harmonis dalam masyarakat pada umumnya, maupun sesama muslim pada khususnya dapat ditentukan oleh kemampuan untuk memberikan kasih sayang, menghindarkan diri dari sifat kasar, dengki, fitnah, dan saling curiga mencurigai. Di samping itu pergaulan kita dengan individu lain ditentukan oleh:
  1. Pengertian bahwa tiap individu mempunyai kepribadian tertentu, yang unik dan hanya dimiliki oleh individu tersebut.
  2. Pengertian bahwa tiap individu mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan individu lain, hal ini akan mendasari perilakunya.
  3. Kemampuan kita untuk mengerti perasaan orang lain, toleran, dan penuh pengertian.
  4. Sikap untuk menghargai orang lain sebagai suatu pribadi dan tidak terlalu mementingkan diri kita sendiri.
Peranan wanita Dalam era Globalisasi
Siapa yang tidak tahu Raden Ajeng Kartini? Tentu semua orang mengenal beliau. Beliau adalah seoarang pejuang wanita, yang memperjuangkan hak-hak wanita yang terinjak-injak karena dianggap lemah, tidak bisa apa-apa, dan tidak berdaya dibandingkan kaum pria. Oleh karena perjuangannya, kini para kaum wanita dapat bersekolah dengan baik, dapat melakukan banyak kegiatan dan tidak lagi dianggap lemah. Untuk selalu mengenang jasa-jasanya diadakanlah Hari Kartini yang diperingati setiap tangal 21 April. Jika dulu peranan wanita adalah sebagai orang yang memperjuangkan hak-hak kaumnya, apakah peranan wanita di dalam era globalisasi yang modern ini?
Menurut Susi, salah seorang guru wanita di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Denpasar, peranan wanita dalam era globalisasi ini sangat banyak. Banyak pekerjaan yang dilakukan oleh wanita sekarang ini sama dengan pekerjaan kaum pria contohnya jika dulu seorang pemimpin haruslah pria, maka sekarang wanita pun bisa menjadi pemimpin. Buktinya banyak wanita yang menjadi kepala desa, kepala camat, bahkan menjadi pejabat. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh wanita selain menjadi Ibu Rumah Tangga. Wanita pun dapat melakukan hal-hal atau pekerjaan-pekerjaan yang sama dengan pria, namun tetap dalam batasan-batasan yang pantas. Maksudnya, tetap ada pekerjaan atau hal-hal yang dilakukan kaum adam yang tidak bisa digantikan posisinya oleh wanita. Contohnya saja kepala keluarga. Meskipun dalam pekerjaannya seorang wanita menjadi kepala daerah atau berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya, di dalam keluarga sang suami tetaplah menjadi kepala keluarga. Karena wanita diciptakan untuk melayani suaminya. Tetapi dalam hal mendidik anak-anaknya, hak dan kewajiban keduanya adalah sama.
Lalu, bagaimana kedudukan wanita yang sebenarnya? Menurut wanita kelahiran Buleleng, 22 November 1960 ini, kedudukan wanita di Indonesia sudah diangkat dan sudah dilakukan pemberdayaan wanita. Sudah ada Undang Undang Anti Kekeransan terhadap wanita. Sudah terbentuk lembaga-lembaga yang membela hak-hak wanita. Meskipun sudah diangkat, namun usaha-usaha tersebut masih belum maksimal. Mengapa dikatakan belum maksimal? Karena masih banyak terjadi kekerasan terhadap kaum hawa. Contohnya penyiksaan suami terhadap istrinya, penyikasaan TKW (Tenaga Kerja Wanita) oleh majikannya. Hanya karena menjadi pembantu rumah tangga, ia deperlakukan sebagai seorang yang hina. Padahal di zaman yang sudah serba modern ini, jika tidak ada wanita-wanita yang bekerja sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), lalu siapa yang membantu mengurus dan merawat rumah jika seandainya pekerjaan kita menyita waktu terlalu banyak. Oleh karena itu diperlukan pembenahan tidak hanya dalam Undang-undang, tetapi juga kesadaran masyarakat. Wanita sekarang memang sudah dapat bekerja dan melakukan banyak kegiatan. Tetapi apakah baik jika wanita bekerja? Boleh saja wanita bekerja, tetapi tetap dalam batas dan tidak mengabaikan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga. Guru yang mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia ini mengatakan, ia bekerja hanya setengah hari. Jika ada pekerjaan tambahan paling-paling pulang pukul 15.00. Setelah pulang dari sekolah, beliau membersihkan rumah, memasak untuk keluarga, mencuci baju dan membereskan pekerjaan rumah lainnya. Sebelum berangkat ke sekolah, subuh-subuh benar beliau sudah menyiapkan sarapan untuk keluarganya, jadi beliau tetap dapat bekerja meski harus mengurus keluarga.
Lalu mana yang lebih penting, keluarga atau pekerjaan? Untuk hal ini, beliau mengatakan bahwa kedua-duanya sama pentingnya. Pekerjaan dibutuhkan untuk menghidupi keluarga, sedangkan tanpa keluarga, hidup terasa hampa meski pun memiliki banyak uang. Sedangkan tanggapan keluarga tentang beliau yang bekerja dikatakan tidak masalah. Keluarga bisa mengerti dan memahami kebutuhan dan kesenangan beliau dalam bekerja.
Dilihat dari hal-hal di atas, dapat dikatakan bahwa wanita memiliki peran yang sangat besar dalam era globalisasi. Bahkan kita pernah memiliki presiden yang adalah seorang wanita. Hal ini membuktikan, seiring berjalannya waktu dan arus globalisasi semakin meluas dan berpegaruh, tidak cukup hanya dengan tenaga pria, dibutuhkan juga tenaga wanita. Wanita ada bukan hanya untuk diam di rumah melakukan pekrjaan rumah, tetapi juga ada untuk membantu dan melengkapi apa yang terkadang tidak bisa dilakukan oleh pria juga untuk membuktikan bahwa wanita bisa berkreasi dan bekerja layaknya seorang pria, tetapi semua itu tetap dibatasi dalam batasan yang wajar, jangan sampai karena sibuk bekerja keluarga ditelantarkan. Sebagai kaum wanita, harus bisa menunjukan kemampuannya baik dalam keluarga, juga di dalam kehidupan masyarakat. Karena umumnya wanita itu lebih teliti, rapi, cermat, dan penuh perhitungan dalam segala hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar